Manisan Khas Tegal, Jajanan Elite Sejak Zaman Belanda

Manisan Khas Tegal, Jajanan Elite Sejak Zaman Belanda

1831

Teguhjuwarno.com – Manisan buah khas Tegal, sebuah jajanan khas Tegal yang sudah terkenal sejak jaman kompeni Belanda. Meski sekarang nyaris punah, karena kalah dengan manisan buah pabrikan dalam kemasan kaleng.

Namun pedagang jajanan khas Tegal, yang pada jamannya merupakan makanan  masyarakat kelas atas, kini masih bisa dijumpai di sejumlah tempat di kota Tegal.

Penjual jajanan khas yang sekarang masih bertahan pun ternyata penjual turun temurun hingga generasi ke-4. Seperti yang bisa di jumpai di seputar alun-alun kota Tegal, tepatnya di Jalan KH Ahmad Dahlan Kota Tegal.

Warung Murod, demikian nama penjual jajanan manisan khas Tegal yang hingga kini masih bertahan. Warung  berukuran 1 meter kali 3 meter ini  terletak di antara sela-sela bangunan modern di kawasan alun-alun kota Tegal.

Makmur, pemilik warung ini menceritakan, kakek buyutnya membuka warung tersebut sejak 1912 dan hingga kini masih bertahan menjual manisan buah .

“Saya merupakan generasi ke-4 dari kakek buyut saya yang hingga kini masih menjual manisan buah. Dan masih bertahan meski telah tergilas oleh modernisasi olahan buah kaleng dan sejenisnya yang banyak ditemui di swalayan dan mini market,” ucap Makmur (49) seperti dikutip dari Metrotvnews.com, Sabtu (18/04).

Manisan buah itu sendiri terbuat dari buah segar seperti mangga, kedondong, salak dan buah berdaging keras lainnya yang direndam dengan bumbu pemanis dan asin. Biasa dikenal dengan manisan buah.

Manisan buah ini memiliki citarasa yang sangat unik, yaitu manis, kecut, sepat, asin dan segar. Wadah yang digunakan untuk menaruh jajanan ini pun khas, yakni dari toples yang terbuat dari kaca yang merupakan wadah jajanan jaman dulu.

Menurut Makmur, zaman dulu, manisan ini merupakan jajanan mewah, konsumennya pun orang–orang kaya. “Kata kakek saya, dulu manisan ini adalah konsumsi jajanan nona-nona dan tuan-tuan Belanda serta para ningrat Tegal,” tutur Makmur.

Hal senada juga dikemukakan oleh Farida (32), adik Makmur yang juga mengelola warung manisan buah Murod. Saat ini, manisan buah telah dikonsumsi secara umum oleh masyarakat luas tak hanya terbatas pada satu kalangan saja.

“Meski kami akui pembelinya terbatas. Namun manisan buah khas Tegal buatan kami, selalu kami buat dan selalu kami jual setiap hari. Dan Alhamdulillah warung kami masih bertahan sejak tahun 1912,” ucap Farida lagi.

Farida mengaku, jika musim liburan panjang, khususnya musim Lebaran. Warung miliknya menjadi ajang reuni dari warga Tegal yang merantau ke luar kota atau telah menjadi warga kota lain. Untuk melepas kangen, mereka sengaja janji bertemu disini dan menikmati manisan buah khas kota Tegal. (sumber: metrotvnews.com)

Untuk mendapatkan manisan buah ini, konsumen cukup merogoh kocek tidak lebih dari Rp 10 ribu untuk satu porsi manisan buah.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY