Beranda Oase Memaknai Ramadhan Kita

Memaknai Ramadhan Kita

823
BAGIKAN
Teguh Juwarno, Anggota DPR RI Fraksi PAN

Oleh : Ir. H. Teguh Juwarno, M.Si
Anggota Fraksi PAN DPR RI Daerah Pemilihan Jawa Tengah IX

Ada rasa suka cita dan bahagia pada setiap diri umat muslim saat Ramadhan kembali hadir mengisi hari-hari kita. Bagi masyarakat, Ramadhan tahun ini dirasa lebih berat. Bukan saja karena sudah menjadi kebiasaan menjelang ramadhan harga-harga kebutuhan pokok pasti melonjak naik, Ramadhan tahun ini juga bertepatan dengan momentum pendaftaran siswa baru. Pada satu sisi, masyarakat harus memprioritaskan pendidikan anak-anak mereka dengan menyiapkan uang pendaftaran sekolah, di sisi lain harga-harga kebutuhan melejit karena bulan Ramadhan hingga Lebaran nanti

Pada saat bersamaan, sebagai bahan Renungan ramadhan yang segera kita tunaikan, permasalahan sosial masyarakat kian hari semakin pekat. Kita bisa membuka catatan kehidupan sosial masyarakat saat ini. Dapat dirasakan hampir setiap lembaran pemberitaan media cetak maupun elektronik saat ini dipenuhi lembar kelam. Sulit menemukan catatan positif, keberhasilan atau berita bahagia di media massa kita. Setelah disajikan kasus penelantaran lima bocah kecil oleh orang tuanya sendiri di Cibubur, pembunuhan Angeline mengguncang nurani kita. Tidak sampai rasanya naluri manusiawi kita, gadis mungil yang cantik berusia 8 tahun itu ditemukan telah terkubur dengan boneka kesayangannya di samping kandang ayam. Ada luka lebam di sekujur tubuhnya, luka sundutan rokok dan disinyalir telah mengalami kekerasan seksual. Kasus seperti ini bukan terjadi hanya pada Angeline, Tahun 2013 Muhammad Rizky menjadi korban kekerasan yang dilakukan ayah kandung dan ibu tirinya hingga meninggal hanya karena menangis dan rewel. Maria Ulfah, seorang komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan pada tahun 2013 kasus kekerasan terhadap anak sebanyak 13 – 15 kasus setiap hari atau 3.700-an kasus kekerasan terhadap anak. Bentuk kekerasan yang kerap terjadi pada anak diantaranya adalah kekerasan seksual, kekerasan fisik lainnya, pembunuhan, perdagangan manusia (human traficking), narkoba, anak-anak jalanan dan sebagainya. Hal ini menjadi permasalahan krusial dalam pendidikan keluarga saat ini.

Prostitusi menjadi daftar lembaran hitam berikutnya. Kasus pembunuhan gadis cantik yang diduga berprofesi sebagai pekerja seks komersial (PSK) Deudeuh, membuka kotak pandora praktek prostitusi on line. Sejak kasus pembunuhan Deudeuh, banyak terbongkar praktek prostitusi yang bahkan melibatkan anak di bawah umur. Tak jauh berbeda, prostitusi yang melibatkan kalangan artis membuat kita miris. Bukan saja nominal rupiah dalam setiap transaksi yang sungguh luar biasa menurut keterangan mucikari yang tertangkap, tetapi juga pengakuan bahwa “pelanggan” praktek prostitusi artis ini adalah para pengusaha hingga pejabat negara. Nalar sederhana kita bisa berandai-andai, jika saja “uang bayaran” sebagai nilai transaksi prostitusi artis yang mencapai puluhan juta rupiah diberikan untuk siswa berprestasi namun tidak mampu tentu akan lebih banyak mendatangkan kebaikan.

Gaya hidup individulis, konsumtif, hedonis serba permisif dan tidak menghargai prestasi seolah menjangkiti semua strata masyarakat kita. Akibat dari kecenderungan ini bisa kita cermati, kasus aborsi ilegal menjadi satu yang memprihatinkan. Data kasus aborsi yang tercatat di KPAI pada 2012 sebanyak 121 kasus, yang mengakibatkan delapan orang meninggal. Data 2012 ini lebih tinggi dari pada tahun 2011 yang tercatat ada 86 kasus. Menurut Ketua KPAI sebanyak 121 kasus aborsi itu dilakukan oleh anak SMA dan SMP atau di bawah 18 tahun. Penyebab peningkatan kasus tersebut paling utama disebabkan gaya hidup.Gaya hidup hedonis dan permisif membuat anak-anak terlibat dalam pergaulan bebas.

Pada sisi lain, gaya hidup konsumtif, individualis dan hedonis juga menjangkiti para pelaku korupsi. Korupsi terjadi ketika kemampuan berproduksi tidak bisa memenuhi keinginan berkonsumsi. Korupsi adalah salah satu permasalahan terbesar bangsa ini. Pada tahun 2014 jumlah kasus korupsi Indonesia meningkat 12%. Indonesia Corruption Watch (ICW) meyebutkan bahwa berdasar laporan kepolisian dan KPK tercatat ada 629 kasus korupsi. Kasus ini dilakukan dengan berbagai jenis modus seperti suap, penyalahgunaan wewenang, penyalahgunaan dana serta pemalsuan data. Tercatat ada lebih dari 1300 orang yang telah ditetapkan tersangka. Diperkirakan sekitar Rp 5,3 triliun uang negara dikorupsi. Jika dibandingkan, data korupsi tahun 2014 ini lebih besar dengan jumlah kasus korupsi tahun 2013 yang tercatat sebanyak 560 kasus dengan 1271 orang tersangka.
Menegur diri satu dari sekian banyak analisa dari lembaran kelam kondisi masyarakat saat ini adalah memudarnya nilai sosial dan sikap permisif. Nilai sosial yang berisi seperangkat tata aturan hukum dan norma sosial saat ini telah berkurang sehingga sikap individualistik semakin tegas, ikatan dan kepedulian sosial hampir sirna. Pada kondisi tersebut, masyarakat cenderung mengambil sikap ketidakpedulian dan “serba boleh” sebagai pegangan. Pada konteks ini, pertanyaan kontemplatif patut kita ajukan, sebagai individu beragama adakah yang keliru dalam sikap kita beragama. Momentum ramadhan mempunyai korelasi positif untuk memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Kita patut untuk menegur diri, berkaca atas apa yang telah dan harus kita jalani sebagai umat muslim.

Berdasarkan arti kata dan makna leksikalnya, ramadhan dimaknai sebagai bulan untuk ‘mengasah’ kalbu, ‘mengasah’ sisi afeksi dan kognisi, sehingga dapat menghilangkan sifat-sifat tercela dan potensi kerusakan yang ada dalam diri. Selain meniscayakan kesalehan individu, ramadhan memuat dimensi sosial. Diantaranya menumbuhkan dan memelihara sikap dan perilaku positif dalam relasi sosial, misalnya bersikap santun, toleran, dermawan, gotong royong dan sebagainya. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa ibadah puasa ramadhan mempunyai tiga tingkatan. Pertama ibadah puasa ramadhan untuk kalangan umum, yaitu menjaga perut dan alat kelamin dari memenuhi shawatnya sesuai aturan yang ditentukan. Kedua adalah ibadah puasa ramadhan kalangan khusus, yaitu selain puasa umum tadi dengan disertai menjaga pendengaran, penglihatan, mulut, tangan dan kaki serta seluruh anggota tubuh lainnya dari perbuatan maksiat. Ketiga, ibadah puasa ramadhan yang paling tinggi, adalah puasa ramadhan kalangan khususnya khusus, yaitu puasa ramadhan dengan menjaga hati dan pemikiran dari noda-noda hati yang hina dan dari hembusan pemikiran duniawi yang sesat serta memfokuskan keduanya hanya kepada Allah. Inilah yang disebut Imam al- Ghazali sebagai puncak kontemplasi hamba dengan Allah SWT.

Ramadhan adalah momen istimewa yang hanya dimiliki umat muslim, maka sungguh amat merugi bila kita mengabaikan momen ini. Momen kita sebagai individu untuk melakukan pelatihan khusus, moment kita sebagai umat untuk menggugat diri dan melakukan introspeksi. Sebagai umat mayoritas di negeri yang indah dan kaya ini, ternyata kita masih umat yang tertinggal di berbagai bidang. Bahkan yang memilukan, umat islam seringkali menjadi ‘tertuduh’ terhadap fenomena radikalisme, terorisme, intoleran, korupsi dsb. Tantangan sebagai umat untuk mewujudkan islam yang menjadi Rahmat bagi seluruh alam harus kita jawab dengan kerja keras dan ikhlas semata mengharap Ridho Allah SWT. Sehingga menjadi penting bagi kita umat Islam menjadikan Ramadhan ini sebagai ‘kawah candra dimuka’ untuk melakukan ‘pelatihan badar’ dengan menu khusus membuang segala keburukan untuk lahir kembali membawa kemenangan.

Akhir kata, Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan, semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita menunaikan Ramadhan dengan hati bersih, niat yang ikhlas semata untuk mengharap Ridho Allah SWT dan menjadikan Ramadhan ini adalah Ramadhan terbaik dalam hidup kita, semoga kita semua termasuk golongan yang beruntung di hari lebaran nanti. Wallahu álam..

diterbitkan oleh koran Radar Tegal, 20 Juni 2015

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen − eight =