Beranda Berita Teguh Juwarno: Bagaimana Mungkin Orang Meninggal Memberi dan Menerima Uang?

Teguh Juwarno: Bagaimana Mungkin Orang Meninggal Memberi dan Menerima Uang?

119
BAGIKAN
Teguh Juwarno, Ketua Komisi VI DPR RI

Teguhjuwarno.com РBekas Wakil Ketua Komisi II DPR RI Teguh Juwarno mengatakan, tak mungkin dirinya menerima uang dari rekannya, Mustoko Weni. Menurut Teguh, dalam dakwaan dia disebut menerima uang dari Mustoko Weni di ruang kerja yang bersangkutan pada sekitar September-Oktober 2010.

“Yang Mulia, fakta yang ingin saya sampaikan, Ibu Weni meninggal 18 Juni 2010. Jadi adalah tidak masuk akal terjadi pembagian uang di ruang beliau,” kata Teguh Juwarno saat bersaksi untuk terdakwa Irman dan Sugiharto, di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (23/3/2017).

Politikus Partai Amanat Nasional itu kembali mengungkapkan keheranannnya, karena dalam dalam dakwaan tersebut juga dituliskan Mustoko Weni ikut sebagai penerima uang. Sekali lagi, kata Teguh, Mustoko Weni sudah meninggal.

“Bahkan, beliau di situ disebutkan sebagia penerima. Bagaimana mungkin orang meninggal terima uang?” ujarnya.

Teguh juga membantah disebut menerima uang dari anggota Komisi II Fraksi Partai Hanura Miryam S Haryani.

Dalam dakwaan, Miryam disebutkan membagi-bagikan uang kepada para wakil ketua Komisi II dan anggota pada sekitar Agustus 2012. Teguh beralasan, tidak ada kepentingan Miryam memberikan uang, karena saat itu dia sudah menjabat sebagai pimpinan Komisi II.

“Yang Mulia, saya bawa dokumen dan bukti-bukti pada tahun 2012, saya sudah bukan pimpinan komisi II. Saya hanya sampai 21 September 2010. Sungguh sangat jahat tuduhan ini, kami tidak mungkin berurusan dengan urusan ini,” tutur Teguh.

Dalam dakwaan, Miryam meminta uang kepada Irman sejumlah Rp 5 miliar untuk kepentingan operasional Komisi II. Irman kemudian memerintahkan Sugiharto untuk menyiapkan uang dan menyerahkannya kepada Miryam.

Sugiharto kemudian meminta uang Rp 5 miliar dari Direktur Utama PT Quadra Solution Anang S Sudihardjo, dan memerintahkan langsung agar diserahkan kepada Miryam.
Dari total uang tersebut, Miryam membagi-bagikannya secara bertahap. Tahap pertama untuk pimpinan Komisi II, yakni Chairuman Harahap, Ganjar Pranowo, Teguh Juwarno, dan Taufik Effendi. Masing-masing 25 ribu dolar Amerika Serikat.

Kemudian, tahap kedua untuk sembilan orang ketua kelompok fraksi Komisi II, masing-masing 14 ribu dolar Amerika Serikat, termasuk Kapoksi yang merangkap sebagai pimpinan komisi.

Sedangkan tahap ketiga ditujukan untuk 50 anggota Komisi II, masing-masing delapan ribu dolar Amerika Serikat, termasuk pimpinan komisi dan Kapoksi.

Para saksi diperiksa untuk dua terdakwa, yakni Irman dan Sugiharto. Irman adalah bekas Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil Kemendagri, sedangkan Sugiharto adalah bekas Direktur Pengelola Informasi Administrasi Kependudukan Ditjen Dukcapil Kemendagri, sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen.

Negara disebut menderita kerugian Rp 2,3 triliun dari nilai proyek Rp 5,9 triiun anggaran pengadaan KTP elektronik

dikutip dari : http://wartakota.tribunnews.com/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

fourteen + ten =